Minggu, 27 Maret 2016

Mengapa Ada Hari Minggu

(Gambar 1.1. Ibadah IKBMKHN Mingguan)
          Para Rasul kemudian menyebut hari kebangkitan Yesus ini, yang jatuh pada hari Minggu, sebagai Hari Tuhan.
         
          Maka penetapan hari Minggu sebagai hari Tuhan itu sudah ditetapkan sejak Gereja perdana, dan bukan baru ditetapkan di zaman Kaisar Konstantin. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini. Sedangkan bahwa perkataan ‘Paska’ memang mengacu kepada kebangkitan Kristus yang tak terpisahkan dari sengsara dan wafat-Nya, itu memang benar, sehingga Gereja menghubungkan misteri Paska dengan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, sebagaimana pernah diulas di artikel ini,



          Jadi perayaan Paska sebagai hari Kebangkitan Kristus dan penyebutan hari Minggu sebagai Hari Tuhan (the Lord’s day), itu sudah dirayakan oleh Gereja sejak abad awal. Pelopor yang mempromosikan kembali perayaan Sabat dan bukan hari Minggu, adalah kedua pendiri sekte Anabaptist, yaitu Andreas Fisher dan Oswald Glait di tahun 1527, yang kemudian juga dilakukan oleh penganut Seventh- day Adventists sejak tahun 1844. Namun Gereja Katolik, dan sebagian besar gereja-gereja non-Katolik, tetap berpegang kepada apa yang telah dilaksanakan oleh Gereja selama berabad-abad sejak awal (sebagaimana dikatakan oleh St. Yustinus Martir (100-165), yang dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik), yaitu merayakan Hari Tuhan pada hari Minggu, untuk memperingati hari kebangkitan Kristus- yaitu hari Paska, yang jatuh pada hari Minggu.

          KGK 2174     Yesus telah bangkit dari antara orang mati pada “hari pertama minggu itu” (Mat 28:1; Mrk 16:2; Luk 24:1; Yoh 20:1). Sebagai “hari pertama”, hari kebangkitan Kristus mengingatkan kita akan penciptaan pertama. Sebagai “hari kedelapan” sesudah hari Sabat (Bdk. Mrk 16:1; Mat 28:1), ia menunjuk kepada ciptaan baru yang datang dengan kebangkitan Kristus. Bagi warga Kristen, ia telah menjadi hari segala hari, pesta segala pesta, “hari Tuhan” [he kyriake hemera, dies dominica], “hari Minggu”.
“Pada hari Minggu kami semua berkumpul, karena itulah hari pertama, padanya Allah telah menarik zat perdana dari kegelapan dan telah menciptakan dunia, dan karena Yesus Kristus Penebus kita telah bangkit dari antara orang mati pada hari ini” (St. Yustinus, Apol. 1,67). Gide Adii
(Gambar 1.2. Ibadah IKBMKHN Mingguan)

Kamis, 24 Maret 2016

TARIAN ADAT LEMBAH GRIME

Seni tari merupakan sebuah seni yang mengekspresikan bagaimana nilau batin dengan gerakan-gerakan yang penuh makna. Gerakan ini dibuat lewat perpaduan antara gerakan dan juga mimik yang khas. Selain dari pada itu musik pengiring juga merupakan sebuah hal yang akan mendukunng keindahan visual yang nantinya ditampilkan lewat seni tari ini.
bermacam-macam jenis tarian yang ada merupakan kekayaan seni yang tidak terbatas, ada beberapa jenis tarian: Tarian tradisional, tarian tradisional klasik, dan tarian tradisional kerakyatan.
Tarian khas Papua tidaklah sedikit, melainkan banyak. Beberapa tarian dari Papua yang terkenal adalah, Tari Sajojo, Tari Seka, Tari Gale-gale, Tari Selamat Datang, Tari Pacul, Tari Balada, hingga tari Cenderawasih.
Seperti halnya di daerah lain, bahwa di daerah Genyem, Kab. Jayapura terdapat tarian yang sangat menarik. Tarian ini dibakan sebagai tanda mengucapkan selamat datang kepada tamu mereka yang sangat mereka hormati, seperti Pejabat Pemerintah, Gereja, Adat, dan lain-lain. Tarian ini berasal dari beberapa kecamatan di lembah Grime-Genyem-Jayapura-Papua, diantaranya di:
  1. Distrik Kemtuk Gresi
  2. Distrik Kemtuk
  3. Distrik Nambrong
  4. Distrik Nimburan
  5. Distrik Nembukran
  6. Gresi selatan
Wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan ibu Ripka Trapen bahwa (23/03/2016). Ibu yang karib dipanggil ibu Ripka ini mengatakan bahwa "Tarian ini merupakan tarian tradisional yang di wariskan secara turun temurun dan mengandung filosofi yang dalam, serta memiliki pesan simbolis, dan juga sekaligus religius. Mulai Kata-kata komando yang diteriakpun tidak sembarangan, dan  pakaian yang digunakan berasal dari kulit pohon yang di gambar motifnya dan daun kelapa/sagu (Pria) dan daun kelapa/sagu (Wanita), dan mahkotanya dari Bulu Burung Kasuari (Pria) dan wanita Buluh Burung Beo Nias yang di Tusuk di rambut mereka. Bahasa yang digunaka dalam tari paling sering adalah bahasa Kemtuk Gresi". (Gide Adii)




SEMINAR DAN KKR Tema : “Grime bangkit bagi kemuliaan Kristus” .

Adalah seminar dan KKR yang dilakukan oleh gabungan beberapa denominasi gereja diantaranya GIDI, GKII, GKI, GKIP, Baptis, GPdI, Katolik dan tokoh adat setempat. Kegiatan tersebut dilakukan selama tiga hari mulai dari tanggal 21-23 Maret 2016, di Ibub, Genyem.
Ide pokok  ini timbul pada saat pelayanan di Yansuden-Genyem, oleh Pak Pdt. Viktor Kobak S.Th. ketika itu melihat lembah Grime yang luas dan berkata "Lembah ini harus ada suatu kebaktian kebangunan Rohani Oikumene yang menyatuhkan Jemaat Tuhan di Lembah Grime.
Mereka yang dilatih ini disebut sebagai penginjil ini adalah ujung tombak dari peningkatan derajad anggota jemaat di kampung. Didalam bergereja jemaat sangat memiliki peranan yang sangat penting  dalam meningkatkan kwalitas iman secara jasmani dan Rohani, yang berada di jemaat dan Klasis ataupun wilayah di masing-masing Denominasi.
Pada hari pertama pembukaan khotbah dibawakan oleh President GIDI, dalam khotbahnya Ia mengatakan bahwa “Kita akan bertamu dan bermusyawarah di ruang tamu namun kamar kita atur masing-masing, Semua denominasih harus bersatu”. Pesertanya pun dihadiri oleh masing-masing denominasi. Isi materi :
1.       Diberkati untuk memberkati (Dr. Ones Pahabol SE, MM)
2.       Pentingnya ledakan penginjilan dalam gereja (Prinsip pelayanan Yesus berdasarkan Markus 5:1-20) (Ev. Jimmy Lano S.Th)
3.       Penginjilan dan pemuridan (Pdt. Usman Kobak STh. MA)
4.       Okultisme (Pdt. Viktor Kobak S.Th)
yang dibawakan oleh pemateri yang berbeda-beda pula.
Hari terakhir diadakan penutupan pada tanggal 23 dengan bakar batu. Banyak hal terjadi disana dalam kebangkitan kebangunan rohani, di antaranya ada 32 orang telah menerimah Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara Pribadi, dan ada bantuan diberikan kepada beberapa denominasih gereja oleh Bapak Drs. Ones Pahabol SE. MM, dan oleh Bapak Bupari Jayapura Pak Matius Awaitow uang sebesar Rp. 50 Juta kepada Panitia selaku tim Formatur pada Hari Terakhir. Dan di pengunjung kegiatan ini telah dibentuk suatu rencana wadah dan memilih Panitia Formatur untuk menjalankan Kegiatan Pemilihan Badan Pengurus dan merancang nama wadah.