Rabu, 23 November 2016

Pembubaran Panitia MAKRAB IMACE 2016



                Gate Wiyai 13/11/2016. Pembubaran Paniti Makrab angkatan 2016 di Pante Anyer kab. Banten Jawa Barat. Kami menggunakan Bus 1 Unit.
Kegiatan Makrab yang di ketuai oleh Akis Pagawak dan kawan-kawan, direncanakan berkumpul di depan FK (Fakultas Kedokteran ) UKI tepat jam 04:00 subuh sudah harus kumpul, tetapi kami kumpul tidak tepat waktu kami yang lain kumpul jam 06:55 sementara yang lain pada kumpul jam 4 karena kami yang lain masak makanan di kontrakan Mamberamo tengah, yang hendak kami makan di Pante Anyer makanya beru berangkat 06:55 sampai tibah di Pante Anyer Jam 10:35 Pagi. 






                Jam 07:00 pagi kami masuk di Tol depan menara Gorongan. Tadi pagi kira-kira jam 05:54 sempat terjadi keributan di depan FK UKI karena kesalah pahaman makanya beberapa waktu terbuang di situ, yang membuat yang lain merti tunggu penyelesaian masalah, sampai selesai baru kami mulai berangkat.
                Tadi kami berangkat itu dalam cuaca yang kurang mendukung alias mendung, menutupi seluruh Jakarta. Dan masih sampai di perjalanan ke Anyer pun masih mendung rintuk . Kami sempat melewati Gerbang Serpong Mall dan melewati sungai yang berada tepatnya di bagian kanan bangunan Mall Serpong, dan kami melewati juga Perumahan warga, padang sawa,
                Akibat dari cuaca ini mengakibatkan hingga terlihat banyak sawa yang terendam air, dan kami sampai di Banten barulah mulai terlihat cuaca membaik, terlihat langit kelihatan birunya. Sesampainya di jalan raya Sirih KM 125 Anyer kami beristirahat disini. Ada yang keluar beli minuman dan makanan ringan, tetapi saya tidak keluar dari Bus karena saya tidak berminat untuk membeli sesuatu, bukan karena tidak ada uang namun saya yakin bahwa teman-teman yang beli pasti akan membagiakan ke saya.
                Rasanya masih lama sekali walau kami sudah tiba kami masih lanjut walau terlihat di sepanjang pinggir jalan spanduk, pamflet yang bertulisan Selamat datang di Pante Anyar namun tidak kunjung cepat kami tiba.
                Akhirnya tiba jam 10:33 Wib, ada banyak teman-teman yang kesal mengenai perjalanan kami ini tak kunjung tiba, kami lewati kem-demi-kem. Ini merupakan perjalanan yang sangat melelahkan. Rencananya ada beberapa kegiatan akan kami laksanakan di Pante Anyer, yaitu :
1.       Bakar daging Babi
2.       Ibadah
3.       Laporan Panitia Makrab
4.       Kesan Pesan
5.       Hiburan
6.       Makan
7.       Mandi
8.       Main bola kaki
Kami akan makan makanan yang telah kami masak sendiri dan kami akan bakar sebagian dagingBabi yang telah kami matangkan terlih dahulu dari Jakarta, hal yang paling seruh adalah kami bawah Kayu bakar dari Jakarta, kebanten untuk bakar Babi, di banten.
        Sesampainya di Pante Anyer kami mulai Ibadah Jam 11:30 Wib, dan hal yang kami tak sangka adalah Pada saat ibadah kami sangat sial karena kami rencana itu mandi dulu tapi kami ibadah langsung jadi.
Selama kami ikut kegiatan ada beberapa permasalahan yaitu:
1.       Hp dan baju Abang Arman Lupa di tempat yang sempat ia taruh, maka kami mencarinya.
2.       Banana Bunch tidak dibayar oleh 19 anggota ikatan yang tidak membayar maka pemiliknya datang menagih.
Makanya kami kumpul-kumpul uang baru kami lunasi Rp. 380.000. setelah selesai semua rangkaian kegiatan, kami bergegas untuk masuk kedalam Bus untuk berdoa dan minta tuntunan Tuhan menyertai dalam perjalanan pulang. Dan kami pulang jam 18:02 Wib. Dan kami melakukan perjalanan pulang jam 18:05 Ke Jakarta.
Ada beberapa kesan anggota mengenai kegiatan permbubaran Panitia Makrab:
1.       Nama Kylie A. Y
“ Kita semua kompak, saling memperhatikan dan baku jaga”
2.       Alfrida Walilo
Menurut saya “Sangat senang karena semua kompak dan perjalanan acaranya berjalan dengan baik dan lancar”
                Karena kecapaian maka semua anggota pada tidaur lelap, kami tiba di UKI pada jam 11:30 Wib. Dan selama perjalanan kami tempuh, 6 jam dalam perjalanan. Karena di Panre Anyer kami mandi di air asin, maka muka kami terbakar, dan telihat gelap.
Sekian yang dapat saya bagikan mengenai seputaran pembubaran Panitia makrab. Saya Gide Adii...


Jumat, 04 November 2016

AKIBAT KURANGNYA PERHATIAN TERHADAP PENDIDIKAN DI PEDALAMAN


          Gate Wiyai. 04/11/16.  Dalam berbagai diskusi maupun dialog Ilmia tentang pembangunan dan pelayanan pendidikan yang merata di daerah Pegunungan Papua seperti di Puncak Jaya, Jayawijaya, Tolikara, Mamberamo, Mamberamo Tengah, dan kota-kota lainnya yang dilakukan oleh para Intelek, Pemimpin pemerintahan dan Elesem yang ada di Papua maupun Luar Papua, selalu saja menemukan solusi akurat dari persoalan dan kendala yang dihadapi Masyarakat di daerah Pegunungan dari faktor ex maupun internal masyarakat itu sendiri. Namun, Belum ada perealisasian yang nampak secara keseluruhan. Walaupun di topang oleh dana Otsus Plus Pusat maupun Kabupaten Kota yang sangat besar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memaparkan berdasarkan data Neraca Pendidikan Daerah Provinsi Papua tahun 2015, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan pendidikan di Papua masih sangat rendah.
Anggaran pendidikan dari APBD hanya dialokasikan sebesar Rp 100 miliar dari total keseluruhan Rp 11, 94 triliun. Dari angka tersebut, menunjukkan alokasi pendidikan hanya 0,84 persen.
Dengan alokasi Rp 100 miliar itu, setiap siswa hanya mendapat dana pendidikan dari pemerintah daerah sebesar Rp 165.400 per tahun.
Gambar. Anak-anak SD di daerah Pedalaman Mamberamo Raya
          Kondisi sarana dan prasana mengajar juga memprihatinkan. Tercatat, ada 7.628 ruang kelas yang rusak pada tingkat SD, di tingkat SMP 2.246, dan 1.158 di tingkat SMA. Sementara, persentase penduduk tuna aksara tahun 2014 juga sangat tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain.
Jumlah masyarakat buta huruf di Papua mencapai 584.441 orang atau 28,61 persen..
         
          Anggota Komisi X DPR Sri Meliyana mengungkapkan, permasalahan pendidikan tinggi di Papua harus dibacarakan secara khusus. Politisi F-Gerindra menilai, Papua harus memetakan kebutuhan sarjana apa yang dibutuhkan dalam rangka membangun Papua. Dan hal itu perlu dikomunikasikan kepada Kemenristekdikti. “Jadi ada komunikasi antara Pemda dengan Kemenristekdikti, sehingga bisa ketemu kebutuhan daerah dengan beasiswa yang diberikan. Apalagi tadi dalam pertemuan, perwakilan Kemenristekdikti juga berjanji akan memanggil rektorat PTN di Papua untuk mengkomunikasikan masalah keinginan beasiswa dari Papua,” kata dia.

          Tetapi yang terjadi adalah melenceng jauh, dan itu hanya ide semu. Akibat yang muncul dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi pendidikan di pedalaman Indonesia adalah tingginya angka anak putus sekolah. Bisa dibilang ini adalah salah satu bentuk kurang suksesnya program wajib belajar 9 tahun. Jauhnya jarak tempuh sekolah, tidak adanya tenaga pengajar dan banyaknya anak-anak yang harus membantu pekerjaan orang tua mereka, itulah sebagian besar factor penyebab anak-anak putus sekolah. Anak berusia 7-12 tahun (setara SD) berjumlah 26,3 juta, yang bersekolah 26 juta. usia 13-15 tahun (setara SMP) yang bersekolah hanya sekitar 11 juta dari jumlah total 12,89 juta, sedangkan untuk anak usia 16-18 tahun (usia SMA) yang bersekolah hanya 7,3 juta dan yang tidak bersekolah sekitar 5,5 juta. Sebagian besar dari anak putus sekolah itu terdapat di pedalaman Indonesia (kompas, 11 desember 2009).

           Pendidikan dan kesuksesan sepertinya sudah menjadi dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan lagi. Seseorang yang mendapat pendidikan yang bagus akan dengan mudah eraih kesuksesan yang tentu saja akan mengantar mereka pada kemakmuran. Teori ini tentu saja berlaku disemua wilayah termasuk di daerah pedalaman. Kurangnya SDM yang berkualitas didaerah pedalaman secara tidak langsung juga menghambat pembangunan wilayah mereka. Akibatnya, semakin jauh saja kesenjanngan yang muncul antara daerah kota dengan daerah yang berada di pedalaman. Penduduk pedalaman yang mayoritas adalah warga miskin tanpa adanya pendidikan tentu saja akan semakin miskin saja.

           Masyarakat pedalaman yang pada umumnya hanya berpendidikan rendah harus siap bersaing dengan para pendatang yang memilki pemikiran dan pengetahuan yang lebih maju dari mereka. Kekayaan daerah yang harusnya digunakan untuk memakmurkan masyarakat sekitar menjadi di eksploitasi oleh para pendatang. Masyarakat local bisa saja menjadi masyarakat kelas dua yang hanya mendapat bagian pada pekerjaan kasar, seperti jadi kuli atau tukang suruh. Bila hal ini terus didiamkan bisa saja menimbulkan kecemburuan social yang akhirnya menyebabkan disintegrasi bangsa.
          Semoga Artikel ini memberikan Wawasan kepada pembaca agar kita benar-benar menyadari bahwa dana yang di audit untuk pendidikan itu sangatlah kurang dari pada kebutuhan yang sangat tinggi, semoga bermanfaat... (Gide Adii)...