Urusan pernikahan adalah urusan yang sangat krusial. Memilih pasangan hidup haruslah berhati-hati karena jika Allah menghendaki memberikan umur panjang, kita akan menghabiskan waktu hidup yang relatif lama bersama pasangan hidup. Salah pilih akan menyebabkan biduk rumah tangga hancur tak sampai tujuan. Untuk itu, teman-teman pemuda jangan lupakan ini sebelum melamar.
Jangan terbawa arus, Jangan terjebak dalam budaya yang kosong.
Pacaran dianggap biasa-biasa saja. Bahkan sebagian besar remaja merasa terhina jika sampai umurnya di detik ini ia belum pernah pacaran. Hasutan teman-temannya pun semakin membuat hatinya panas. Ditambah sangkaan demi sangkaan orang tuanya yang menganggap ia tidak normal karena tidak juga membawa pacar main ke rumah.
Alhasil si pemuda akhirnya memberanikan diri, menyatakan cinta pada gadis pujaan jiwa. Pernyataan cintanya disambut dengan senyum bahagia karena ternyata si gadis juga menyimpan rasa. Resmilah ia sekarang berstatus sebagai pacar dari seseorang.
Jika ditanya kenapa tidak nikah saja, maka ia akan tertawa terbahak-bahak. “Bagaimana aku akan memberi makan anak orang, aku saja sekarang masih berstatus sebagai pelajar,” jawabnya. Ternyata si pemuda sadar bahwa dirinya belum mumpuni untuk menikah. Lalu mengapa engkau memacari anak orang?
Kembali dengan senyum mengembang, ia menjawab:” Ya... dari pada menyandang status jomblo tak laku. Lagian kita pacaran kan buat having fun. Serius amat sih jadi orang. Ya... kalau jodoh nantinya syukur, karena berarti kita sudah jauh mengenal pasangan kita dari sekarang, kalau enggak pun tak jadi
masalah”.
Begitulah budaya bangsa yang mayoritas penduduknya mengaku sebagai muslim. Baik orang tua maupun anaknya telah menganggap hal yang salah sebagai hal yang lumrah. Karena budaya ini, akhirnya banyak orang tua yang terpaksa menikahkan anaknya -yang masih duduk si bangku sekolah- sebab telah menghamili anak orang. (Gide Adii)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar